Ada sesak yang tersimpan disudut hati yang gelap, bersembunyi disaat siang namun pecah saat gelap datang.
Sesak yang sulit ku temukan sendiri jawabannya. Apa keinginan hatiku yang sebenarnya.
Sesak yang membuatku susah berpikir waktu ku dengar namamu disebut.
Sesak yang membuatku hampir jatuh waktu melihat bayangmu berlalu, tapi tak mampu ku renggut.
Sesak yang membuatku teriris waktu ku melihatmu tertawa bahagia, tapi bukan bersamaku.
Sesak yang membuatku menyesali diri, waktu mendapat kau mampu berdiri tegak saat tak denganku.
Sesak yang membuatku bibirku kelu tertahan, ketika hendak mengucap aku terlalu cinta kamu.
Aku tak dapat bergerak, maju ataupun mundur.
Ingin mengejar dan memeluk belakang yang selalu kurindukan, namun langkahku tertahan.
Ingin meraih tangan yang sering menggam jariku erat bahkan kadang memelukku kuat sampai ku lemas, namun ku tak berdaya.
Ingin ku mengecup bibir yang selalu memanggilku mesra sembari mengucap kata cinta, namun ku hanya bisa terdiam.
Terdiam. Entah sampai kapan.
Sayang..
Apa yang terjadi sekarang sungguh aku tak tahu.
Seakan semua terjadi tiba-tiba, tanpa isyarat langsung menghentak hebat dataran cinta yang aku bangun bersama kamu dengan bermilyaran impian masa depan.
Dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Sekalipun untuk menyelamatkan.
Sekali lagi aku tak berdaya.
Sayang..
Aku memiliki satu ketakutan yang mewakili jutaan ketakutanku yang lain, namun aku tetap tak mampu melawan atau mengusir jauh ketakutan itu dari benakku. Aku tak berdaya, aku tiada upaya.
Aku takut tiada kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar